Tentang Penulis

KARENA HIDUP, ADALAH PERJUANGAN




Tentang Penulis

Rabu, 12 September 2018

Assalamualaikum warohmatullah wabarokatuh..
Hallo semua..
Perkenalkan, nama saya Syifa Ibtisyam. Orang orang biasa memanggil saya dengan sebutan “syifa” atau “ibtisyam”.
Syifa ibtisyam adalah nama yang ibu dan bapak saya berikan kepada saya. Nama yang indah dengan arti yang indah pula, yaitu “obat senyum”. Dan semoga saja saya bisa mengobati luka hati orang lain dan menggantinya dengan senyuman.

baiklah, saya lahir di kota Tasikmalaya tepatnya berada di daerah Jawa Barat. Saya lahir pada 12 Oktober, 1999. Pada malam jum’at tepatnya jam 12 malam, dengan cuaca hujan yang lebat dengan listrik yang mati. Wah jadi seram begini ya .. hihihi
baiklah saya lanjutkan...

ketika saya berumur tiga tahun, orang tua saya membawa saya ke Jakarta dan tinggal disana. Tepatnya di daerah Kelapa Gading Jakarta Utara. Akhirnya  saya memulai sekolah saya disana di TK Al-Hidayah Jakarta. Dan setelah selesai TK. Orang tua saya mengirim saya kembali ke kota Tasikmalaya. Karena mereka menginginkan saya bisa hidup mandiri tanpa orang tua. Pada akhirnya, saya melanjutkan sekolah di MI Tegalpanjang Tasikmalaya. Dan meneruskan sekolah menengah pertama dan akhir  di Pesantren  Al-furqon Muhammadiyah Tasikmalaya.
Di tempat itulah awal mulanya perjuangan saya dimulai..
Saat pertama kalinya saya menginjakan kaki saya di tempat itu. Yang pertama kali saya lihat adalah tulisan besar yang bertuliskan

“APA YANG KAU CARI DISINI ?
ALLAH MENYIMPAN MU DI TEMPAT YANG SEKARANG BUKAN KEBETULAN
ORANG HEBAT DAN BERHASIL TIDAK DIHASILKAN MELALUI KEMUDAHAN, KESENANGAN DAN KENYAMANAN.
MEREKA DIBENTUK MELALUI KESUKARAN TANTANGAN BAHKAN AIR MATA

Saat membaca itu, umur saya baru 13 tahun. Saya tidak tahu apa maksud dari tulisan diatas itu.
Beberapa tahun kemudian, saat itu usia saya 16 tahun. Saya baru saja merasakan bagaimana rasanya berorganisasi. Dari sana masalah mulai bermunculan, Seperti halnya kurangnya komunikasi antara panitia organisasi yang menyebabkan kesalah pahaman antar anggota. Disana saya melatih diri saya untuk menjadi pribadi yang dewasa. Saya mencari ide bagaimana caranya agar masalah-masalah itu dapat diselesaikan. Pada akhirnya saya sering mengadakan forum diskusi dengan panitia dalam organisasi tersebut. akhirnya masalah demi masalah pun dapat terselesaikan.

Setahun setelahnya, saat itu umurku 17 tahun. Naiknya tingkat kedewasaan kita semakin banyak saja permasalahan yang akan kita hadapi. Benar saja, saat itu saya terpilih menjadi ketua OPPAF (organisasi pelajar pesantren Alfurqon) atau sering kita sebut sebagai OSIS.
Sebenernya saya sangat tidak menginginkan jabatan ini. Tetapi, karena ini sudah keputusan koordinator pesantren dan staf pengajar, akhirnya saya jalankan amanah ini dengan ikhlas dan penuh tanggung jawab.

Pesantren itu memiliki siswi sebanyak 200 orang. Dan saya harus bisa mengurusi semua para santriwati. Lalu, apakah saya sendirian? Tentu tidak. Saya memiliki anggota sekitar 11 bagian oppaf dan semua memiliki kewajiban masing-masing.

Saat saya menjabat sebagai ketua OPPAF, masalah pasti selalu ada. Seperti contohnya, santriwati yang baru masuk atau santriwati yang tidak betah di pondok, santriwati yang pura-pura sakit, santriwati yang tidak mau mengikuti kegiatan pondok. Dan masih banyak lagi. Tetapi semua masalah itu bisa saya jalani, saya selesaikan dengan sebaik mungkin.

Pada akhirnya, saya teringat kembali dengan tulisan saat saya pertama kali menginjakan kaki saya di pesantren itu. Dan saya tersadar, ternyata memang benar segala perjuangan tidak akan pernah bisa didapatkan dengan semudah apa yang kita fikirkan, pasti disetiap langkah perjuangan itu ada kesukaran, tantangan bahkan AIR MATA.

Sekian dari saya.
Semoga saja cerita ini bukan hanya dibaca saja tetapi juga dapat diambil hikmah dan manfaatnya bagi pembacanya. Amin.

Wassalamu’alaikum warohmatullah wabarokatuh.

Comments